Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS

 A. Definisi

        Tipe Think Pair and Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaraan kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam think pair and share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu.

B. Landasan Teori

        TPS dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan didepan kelas. Selain itu, TPS juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisispasi dalam kelas. TPS sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri atas 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented). 

Peningkatan penguasaan isi akademis siswa terhadap materi pembelajaran dilalui dengan tiga proses tahapan, yaitu melalui proses thingking (berpikir) siswa diajak untuk merespons, berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan guru, melalui proses pairing (berpasangan) siswa diajak untuk bekerjasama dan saling membantu dalam kelompok kecil untuk bersama-sama menemukan jawaban yang paing tepa tatas pertanyaan guru. Terakhir melalui tahap sharing (berbagi), siswa diajak untuk mampu membagi hasil diskusi kepada teman satu kelas. Jadi, melalui metode Think Pair Share ini, penguasaan isi akademis siswa terhadap materi pembelajaran dapat meningkat dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 

C. Langkah-Langkah Model Pembelajaran

        Model pembelajaran tipe TPS terdiri atas lima Langkah, dengan tiga Langkah utama sebagai ciri khas, yaitu tahap pendahuluan, think, pair, share, dan penghargaan. Penjelasan dari setiap langkah-langkah adalah sebagai berikut. 

  • Tahap Pendahuluan 

Awal pembelajaran dimulai dengan penggalian apersepsi sekaligus memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pembelajaran. Pada tahap ini, guru juga menjelaskan aturan main serta menginformasikan batasan waktu untuk setiap tahap kegiatan. 

  • Tahap Think (berpikir secara individual) 

Proses Think Pair Share dimulai pada saat guru melakukan demonstrasi untuk menggali konsepsi awal siswa. Pada tahap ini, siswa diberi Batasan waktu (think time) oleh guru untuk memikirkan jawabannya secara individual terhadap pertanyaan yang diberikan. Dalam penentuannya, guru harus mempertimbangkan pengetahuan dasar siswa dalam menjawab pertanyaan yang diberikan. 

  • Tahap Pairs (berpasangan dengan teman sebangku) 

Pada tahap ini, guru mengelompokkan siswa secara berpasangan. Guru menentukan bahwa pasangan setiap siswa adalah teman sebangkunya. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak pindah mendekati siswa lain yang pintar dan meninggalkan teman sebangkunya. Kemudian, siswa mulai bekerja dengan pasangannya untuk mendiskusikan mengenai jawaban atas permasalahan yang telah diberikan oleh guru. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk mendiskusikan berbagai kemungkinan jawaban secara bersama. 

  • Tahap Share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas) 

Pada tahapan ini, siswa dapat mempresentasikan jawaban secara perseorangan atau secara kooperatif kepada kelas sebagai keseluruhan kelompok. Setiap anggota dari kelompok dapat memperoleh nilai dari hasil pemikiran mereka. 

  • Tahap Penghargaan 

Siswa mendapat penghargaan berupa nilai baik secara individu maupun kelompok. Nilai individu berdasarkan hasil jawaban pada tahap think, sedangkan nilai kelompok berdasarkan jawaban pada tahap pair dan share, terutama pada saat presentasi memberikan penjelasan terhadap seluruh kelas.  

D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran

Kelebihan:

  1. Meningkatakn pencurahan waktu pada tugas.
  2. Memperbaiki kehadiran.
  3. Angka putus sekolah berkurang.
  4. Sikap apatis berkurang.
  5. Penerimaan terhadap individu lebih besar.
  6. Hasil belajar lebih mendalam.
  7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. 
Kekurngan:

  1. Tidak selamanya mudah bagi siswa untuk mengtur cara berpikir sistematik.
  2. Lebih sedikit ide yang masuk.
  3. Jika ada perselisihan, tidak ada penengah dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan sehingga banyak kelompok yang melapor dan dimonitor. 
  4. Jumlah murid yang ganjil berdampak pada saat pembenyukan kelompok, karena ada satu murid tidak mempunyai pasangan. 
  5. Jumlah kelompok yang terbentuk banyak.
  6. Menggantungkan pada pasangan.

Komentar